DARI NEGARA BERKEMBANG MENJADI NEGARA TERBELAKANG?

           Melihat sebuah fakta delapan negara di dunia ini mendapatkan 40% nikmatnya kemakmuran dunia dan sisanya 60% diperebutkan secara keras dan mati-matian 173 negara. Untuk kelompok unggul tersebut, mereka memiliki apa saja yang mereka inginkan, menikmati kehidupan, mendapat perlakuan yang terhormat. Sebaliknya bagi sebagian besar atau 80% dari kelompok 173 negara itu, termasuk negeri ini setiap hari adalah perjuangan hidup, dari satu masalah ke masalah lain, mulai dari urusan kemiskinan, pengangguran, kejahatan perang, konflik antar etnik, penyakit dan berbagai keibaan lainnya. Masalah sudah menjadi semacam lingkaran setan yang melilit potensi kolektif , menjerat harapandan membuat orang terjerembab , serba terdesak. Lalu kalah dan tersingkir dari kenikmatan global. Baginya setiap hari adalah tanggap darurat, tidak sempat lagi memikirkan hari depan. Setiap hari telah diisi dengan berbagai agenda reaktif dan polemic yang merepotkan dan menguras tenaga, tanpa menghasilkan sebuah pencapaian nyata apalagi signifikan. 
           Tidak berarti 8 negara makmur itu penduduknya lebih pintar, lebih tampan atau lebih agung karena ras dan etniknya . Industri mereka menjadi besar dan amat kompetitif , bukan karena upah tenaga kerjanya dibayar murah atau bahan bakunya melimpah dan murah. Tidak juga karena mereka bekerja lebih giat lebih keras atau lebih lama. Padahal pekerja, petani dan kaum professional di negri ini juga beketja amat keras dan kerja panjang bahkan tidak terlalu menuntut.
            Jadi apa yang membuat mereka melesat meninggalkan kerumunan Negara biasa-biasa atau disebut " Negara berkembang"? Mereka menjadi jauh lebih maju dan menang dalam perlombaan kehidupan bukan karena kapasitas otaknya lebih besar, tapi karena mereka tahu dan mempelajari bagaimana menjalankan mesin , Mereka tahu bagaimana menghandle kekecewaan, rasa takut, amarah, kuatir, ragu-ragu dan putus asa agar tidak menjadi dominan dalam jiwa mereka. Tidak semuaorang bisa menjadi sopir yang handal dari kemampun potensi berfikir, karena hal tersebut bukanlah kemampuan alamiah, akan tetapi di perlukan intelegensi. 
         Kemampuan kompetitif sebuahindustri ditentukan  oleh daya kompetitif dari korporasi-korporasi yang bergabung didalamnya. Demikian juga level semangat kompetitif sebuah negara ditentukan gabungan semangat penduduk di dalamnya. Dan tentu saja, para pemimpin memiliki porsi atau score yang amat tinggi dalam menentukan arah gerak spirit pemikiran bangsanya. Kemampuan leadership yang efektif adalah yang sanggup menginspirasi, mencangkram denyut pikiran para pengikutnya menuju satu gambaran mental yang hendak mereka capai bersama. Tanpa usaha membangun daya kompetitif, negeri ini hanya akan jalan di tempat , dan melihat negeri lain bergerak lebih cepat. Akibatnya secara relatif, kita akan bergerak lebih lamban dariistem, dan akan dikeluarkan dari standart rel, lalu anjlog kemudian menghilang dari radar negara brkembang menjadi kumpul negara terbelakang .

0 komentar:



Posting Komentar